Selepas shalat zhuhur, saya biasa makan siang di sebuah warung sederhana. Menunya pun sederhana. Karena, isi dompetnya pun “sederhana”.
Tapi, yang membuat hari itu istimewa adalah obrolan saya dengan ibu si penjaga warung.
Ibu ini usianya sudah diatas 50
tahun. Saat saya tanya mengapa di usianya yang tidak lagi muda dan kondisinya
yang sudah lemah dia masih berjualan nasi? Saat itu dia hanya mengucapkan
kalimat sederhana “Anak ibu banyak, dan kini mereka sudah menikah semua, tempat
tinggalnya pun berpencar dan berjauhan. Jadi ibu tidak ingin membebani mereka.
Ibu masih kuat untuk hidup mandiri.”
Saat asyik mendengarkan si ibu
bercerita, tiba-tiba keluar dari kamar, seorang bocah kecil. Dengan sebuah
mobil mainan ditangannya, bocah ini langsung mendekati saya dan memberi isyarat
dengan gerakan tubuhnya bahwa dia ingin ditemani bermain. Spontan saya langsung
meminjam mobilnya dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah.
“Hei cah bagus, namamu sopo?”
“Namaku Alvin om”
Setelah bocah itu membawa mobil
mainannya ke halaman. Saya pun bertanya ke si ibu.
“Itu anak siapa mbah?”
“Itu cucuku, sudah dua hari di
sini”
“Oh, ayah dan ibunya kerja?”
“Ibunya kerja jadi TKI, dan ayahnya
sopir angkut”
Kemudian, dengan air mata
berlinang, si ibu melanjutkan cerita.
“Sebenarnya, ayah dan ibunya sudah
cerai. Sebab mulanya, si ayah lama tidak pulang dan tidak memberi nafkah. Dan
akhirnya mereka pisah. Ibunya, karena tidak cukup biaya untuk kebutuhan sehari-hari, akhirnya memutuskan
untuk kerja jadi TKI. Dan anaknya dititip sama mbah”
“Ayahnya masih jadi sopir angkut?”
tanya saya
“Mbah nggak tau kabarnya. Tapi,
ibunya pernah cerita. Setelah cerai, sesekali si ayah pernah datang dan ngajak
main anaknya sampai sore. Tapi saat pulang, si anak cerita bahwa dia cuma diajak
keliling dan hanya dikasih makan mie rebus.”
Saya kembali menatap bocah yang
masih asyik bermain di halaman. Sambil menahan air mata, saya pun memohon dalam
hati.
“Ya Robb, jadikanlan anak itu kelak
termasuk hamba-Mu yang taat beribadah. Lapangkanlah rizkinya, cerdaskan
akalnya, sehatkan jasmaninya, dan karuniakanlah ilmu yang banyak manfaat,
Aamiin”
Kita pahami, bahwa menikah itu
butuh ilmu dan persiapan yang matang. Menikah buru-buru tanpa pertimbangan
matang akan mendatangkan banyak mudarat.
Nikah itu indah? Ya, sangat indah.
Tapi tak semudah lidah berkata. Saat kita memilih untuk menikah, di sana ada konsekuensi dan tanggung jawab.
Ada kewajiban dan ada hak. Di saat salah satu timpang, maka pernikahan akan tumbang.
Tapi tak semudah lidah berkata. Saat kita memilih untuk menikah, di sana ada konsekuensi dan tanggung jawab.
Ada kewajiban dan ada hak. Di saat salah satu timpang, maka pernikahan akan tumbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar