Selasa, 22 Agustus 2017

Cucu dan Neneknya




Selepas shalat zhuhur, saya biasa makan siang di sebuah warung sederhana. Menunya pun sederhana. Karena, isi dompetnya pun “sederhana”. 

Tapi, yang membuat hari itu istimewa adalah  obrolan saya dengan ibu si penjaga warung.

Ibu ini usianya sudah diatas 50 tahun. Saat saya tanya mengapa di usianya yang tidak lagi muda dan kondisinya yang sudah lemah dia masih berjualan nasi? Saat itu dia hanya mengucapkan kalimat sederhana “Anak ibu banyak, dan kini mereka sudah menikah semua, tempat tinggalnya pun berpencar dan berjauhan. Jadi ibu tidak ingin membebani mereka. Ibu masih kuat untuk hidup mandiri.”

Saat asyik mendengarkan si ibu bercerita, tiba-tiba keluar dari kamar, seorang bocah kecil. Dengan sebuah mobil mainan ditangannya, bocah ini langsung mendekati saya dan memberi isyarat dengan gerakan tubuhnya bahwa dia ingin ditemani bermain. Spontan saya langsung meminjam mobilnya dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah.

“Hei cah bagus, namamu sopo?”

“Namaku Alvin om”

Setelah bocah itu membawa mobil mainannya ke halaman. Saya pun bertanya ke si ibu.

“Itu anak siapa mbah?”
“Itu cucuku, sudah dua hari di sini”
“Oh, ayah dan ibunya kerja?”
“Ibunya kerja jadi TKI, dan ayahnya sopir angkut”

Kemudian, dengan air mata berlinang, si ibu melanjutkan cerita.

“Sebenarnya, ayah dan ibunya sudah cerai. Sebab mulanya, si ayah lama tidak pulang dan tidak memberi nafkah. Dan akhirnya mereka pisah. Ibunya, karena tidak cukup biaya untuk  kebutuhan sehari-hari, akhirnya memutuskan untuk kerja jadi TKI. Dan anaknya dititip sama mbah”

“Ayahnya masih jadi sopir angkut?” tanya saya

“Mbah nggak tau kabarnya. Tapi, ibunya pernah cerita. Setelah cerai, sesekali si ayah pernah datang dan ngajak main anaknya sampai sore. Tapi saat pulang, si anak cerita bahwa dia cuma diajak keliling dan hanya dikasih makan mie rebus.”

Saya kembali menatap bocah yang masih asyik bermain di halaman. Sambil menahan air mata, saya pun memohon dalam hati.

“Ya Robb, jadikanlan anak itu kelak termasuk hamba-Mu yang taat beribadah. Lapangkanlah rizkinya, cerdaskan akalnya, sehatkan jasmaninya, dan karuniakanlah ilmu yang banyak manfaat, Aamiin”

Kita pahami, bahwa menikah itu butuh ilmu dan persiapan yang matang. Menikah buru-buru tanpa pertimbangan matang akan mendatangkan banyak mudarat.


Nikah itu indah? Ya, sangat indah. 

Tapi tak semudah lidah berkata. Saat kita memilih untuk menikah, di sana ada konsekuensi dan tanggung jawab. 

Ada kewajiban dan ada hak. Di saat salah satu timpang, maka pernikahan akan tumbang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...