Kamis, 14 September 2017

Mengisi Hidup


Hakikat Hidup
Waktu terus berputar dan kehidupan terus berjalan. Suatu saat kita akan sampai tujuan. Dari mana dan hendak kemana kita adalah pertanyaan dasar yang harus kita jawab dengan tindakan nyata. Tujuan hidup adalah mencari mati yang baik, maka hendaknya hiduplah yang baik. Kematian yang baik adalah cermin bagaimana kita menjalani kehidupan dengan baik pula.
Kata kuncinya adalah belajar. Belajar bagaimana agar diri ini terus makin meningkat skala kebaikannya. Belajar tentang bagaimana orang-orang baik mengisi kehidupannya. Mereka telah mewariskan kebaikan yang banyak bagi manusia sesudahnya. Nama mereka tetap hidup dan harum, meski jasad merreka telah lama terkubur. Karya meraka tetap abadi walaupun mereka telah lama mati. Mereka menyiapkan bekal terbaik untuk menghadapi kematian.
Kematian adalah pintu yang terbuka – keluarnya ruh dari jasad – dan menyebabkan nafas berhenti berhembus. Maka saat itulah jasad atau fisik kita telah ditinggalkan oleh jiwa. Hakikat kemanusiaan kita sudah tidak lagi memiliki nilai. Karena tanpa jiwa, manusia hanyalah sekerat daging yang dapat berubah menjadi bangkai.
Kematian itu bisa menyenangkan dan bisa juga mengerikan. Kematian adalah cermin kehidupan. Artinya, jika setiap kita bisa menjalani hidup dengan baik maka kematian pun akan ikut terasa baik dan mendamaikan, dan begitu pula sebaliknya.
Kunci sukses kematian adalah kehidupan. Jikalau dalam kehidupan, kita lebih fokus dan terarah untuk sesuatu yang besar, banyak memberi manfaat pada sesama, dan kita melakukannya dengan cara terbaik, maka kematian tidak lagi menjadi hal yang mengerikan. Indahnya hidup bukan karena banyak orang yang mengenal kita, namun berapa banyak orang yang bahagia karena kita.
Jalan sukses kematian sudah dirintis oleh mereka yang sudah lebih dulu meninggalkan kita. Kematian mereka menjadi pelajaran berharga bagi manusia sesudahnya. Prinsip hidup yang mereka jalani, bisa menjadi pijakan kaki agar hidup kita di bumi lebih memberi arti. Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan sebuah perjalanan.
Belajar hidup untuk kebahagiaan hidup setelah kematian adalah sebuah keniscayaan. Karena dengan itu, kita berharap dan berusaha agar bisa hidup lebih bermakna. Ada karya terbaik yang kita tinggalkan setelah kematian dan ada banyak manfaat yang kita wariskan bagi kehidupan. Lalu pada akhirnya, kematian tidak lagi menjadi hal yang mengerikan, namun ia menjadi hal yang mendamaikan.

Mengapa kita takut mati?
Sebagai manusia, kita semua sama di hadapan kematian. Setakut apa pun seseorang terhadap kematian, lalu ia bersembunyi darinya. Toh, pada kenyataannya, dia tetap bertemu dengan kematian. Sekali pun seseorang mampu membangun benteng yang tinggi lagi kokoh, percayalah, dia tetap tidak bisa selamat dari kematian. Maka, tidak ada alasan mengapa kita takut akan kematian.
Namun, yang harus menjadi perhatian dan pertanyaan besar setiap kita adalah, apa yang harus dipersiapkan agar saat kematian datang, diri kita sudah benar-benar siap untuk pulang. Sehingga tindakan nyata kita adalah segala bentuk kebaikan yang banyak, untuk bekal kehidupan setelah kematian.
Persepsi yang benar terhadap kematian, akan menjadikan kita pandai dalam mengisi kehidupan. Setiap detik dari waktu yang ada, bisa termanfaatkan dengan prestasi-prestasi kebaikan. Kita tidak asal hidup. Kita terus berubah dan berbenah ke arah yang lebih baik. Taat mengabdi dan terus mengasah hati. Semangat menebarkan cinta dengan akhlak mulia.
Kita tidak tahu – dan tak pernah tahu kapan, di mana, dan dalam kondisi apa saat kematian nanti menjemput kita. Nah, atas ketidaktahuan itulah, perasaan yang muncul bukan takut mati atau berani mati. Namun, bagaimana kita menyiapkan diri sebaik dan sedini mungkin agar tidak rugi, resah, dan gelisah saat pulang. Apa yang kita tabur hari ini itulah kelak yang akan kita tuai nanti.

Hakikat kematian
Yang terbayang saat kita mendengar kematian, adalah ketakutan dan kegelapan. Hidup sendiri, tanpa keluarga, teman, atau sahabat dalam sebuah lubang gelap dan sempit dengan ukuran tidak lebih dari satu meter, dan memiliki kedalaman sekitar dua meter dari permukaan tanah. Siapa pun tidak lagi dapat dimintai tolong. Saat diri harus bertanggung jawab atas perbutatan selama hidup di dunia.
Ke mana pun kita pergi, menjejakkan kaki ke tempat yang paling jauh dan tersembunyi, selalu tiba masanya untuk pulang. Semakin jauh kaki melangkah, berjalan, atau berlari. Pada akhirnya, kita akan berhenti. Jalan panjang luas terbentang yang sudah kita lalui, pada waktunya akan menjadi saksi bahwa kita pernah hidup, lalu mati dan tak pernah kembali.
Kematian menjadi tempat yang asing, karena bagi yang masih hidup memang belum pernah mengalami, dan bagi yang sudah mati memang belum pernah ada yang hidup lagi. Namun, kematian tetap menjadi suatu yang pasti bagi setiap diri. Ia sungguh datang pada siapa pun, pada yang sakit, juga pada yang sehat. Pada yang tua, juga pada yang muda. Pada si rakyat, juga pada si pejabat. Bahkan vonis kematian sudah berlaku sebelum kelahiran kita. Setiap diri sudah tertulis jadwal kematiannya, tidak ada yang bisa lari atau sembunyi. Kita pasti mati.

Bekal kematian
Banyak sedikitnya bekal menentukan kenyamanan dalam perjalanan hingga tempat tujuan. Logika sederhana itu berlaku saat kita melakukan kunjungan ke luar kota baik dekat atau pun jauh. Makin jauh perjalanan yang akan kita tempuh, maka makin banyak pula bekal yang akan kita siapkan. Makin sulit medan yang akan kita tempuh, maka makin berhati-hati pula kita dalam mempersiapkan segala sesuatunya, dengan harapan perjalanan kita aman dan selamat sampai tujuan.
Kehidupan di dunia ini, ibarat kita menanam benih. Semakin banyak benih yang kita tanam, semakin banyak yang tumbuh dan besar. Sebutir benih kebaikan yang kecil akan tumbuh, dan mendatangkan balasan abadi tak berkesudahan, pun benih kejahatan. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Apa yang kita kerjakan, itulah yang akan kita dapat.
Satu biji mangga yang kecil bisa tumbuh menjadi pohon mangga yang sangat besar. Untuk setiap kebaikan atau pun kejahatan yang kita anggap kecil, akan mendapat balasan dalam bentuk yang lebih besar. Jika kita menyadari kenyataan ini, maka kita akan sibuk memikirkan dan memperbaiki diri sendiri. Tidak punya waktu untuk mengurusi kekurangan orang lain. Karena setiap yang kita lakukan, akan mendapat balasan setimpal.
Hari ini, hidup kita belum berhenti. Nafas masih berhembus, jantung masih berdetak dan urat nadi dalam tubuh masih berdenyut. Inilah saatnya kita berupaya untuk terus melakukan perbaikan diri, mengisi hari-hari dengan peningkatan sikap dan perilaku yang makin baik. Karena dengan itulah kita akan memperoleh bekal yang cukup untuk kita bawa pulang.
Manusia, sebagai makhluk yang diciptakan dan diberi kehidupan. Secara sadar, telah diberi kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri. Kita sendirilah yang merawat diri dan menjalani hidup ini, apakah memilih jalan kebenaran ataukah jalan kesesatan. Dan pada akhirnya kita sendiri yang akan memperoleh hukuman atas kesalahan atau balasan atas kebaikan yang sepadan.
Kesenangan, kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian, adalah balasan bagi mereka yang selama hidup mampu mencintai dirinya sendiri, lalu berbuat banyak manfaat pada sesama. Mereka banyak belajar dari pengalaman yang mereka alami, dan juga belajar dari pengalaman orang lain. Mereka serius memahami setiap pelajaran yang mereka terima, tidak bermalas-malasan dan santai dalam menjalani kehidupan. Kesungguhan mereka mengisi hidup ini, diiringi dengan keyakinan sepenuh hati bahwa kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang lebih baik, dan lebih kekal, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal.

Yang Bahagia dan Yang Sengsara
Mereka yang tahu arti hidup, tentu tidak ingin tertipu oleh kebahagiaan semu. Harta yang diyakini sebagian orang bisa membahagiakan, ternyata tidak. Ia adalah materi yang paling mudah hilang. Orang yang hari ini kaya raya, tidak menutup kemungkinan besok akan jatuh miskin. Uang atau tabungan yang saat ini ada, tidak ada jaminan besok atau bulan depan tetap jadi milik kita. Karena semua itu adalah materi yang bisa hilang sewaktu-waktu.
Mereka yang paham tujuan hidup, tentu akan lebih sibuk dan fokus ke dalam dirinya sendiri agar tetap benar dan lurus. Mereka menjadikan hidup ini lebih bermakna, dan tidak ingin mengisinya dengan hal-hal yang sia-sia.
Hidup ini bukan sekadar lahir, tumbuh besar, dewasa, menua, kemudian mati. Namun kehidupan harus terus diisi oleh aktivitas yang lebih baik dan lebih berharga, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Itulah tanda bahwa kita telah mensyukuri nikmat kehidupan.
Mereka yang bahagia adalah mereka yang mampu bekerja lebih keras dan terus belajar. Mereka mencintai hidup, bukan semata karena ingin membangun istana di dunia. Namun lebih dari itu, yang mereka impikan adalah bisa hidup mulia di surga.
Yang mengerikan, ketika kita belum sadar bahwa dunia yang kita tinggali ini adalah hanya tempat persinggahan sementara. Lalu, diatas ketidaksadaran itu, kita lupa untuk menyiapkan bekal untuk pulang. Pikiran-aktivitas-dan semua tindakan yang kita lakukan hanya untuk mengejar kebahagiaan sesaat. Kekayaan, jabatan, dan popularitas menjadi tujuan utama hari-hari kita, sehingga dari bangun tidur sampai tidur kembali kita berpikir keras bagaimana agar bisa dapat uang banyak, lalu naik jabatan, kemudian terkenal. Akhirnya kemewahan dunia telah mengubah arah dan tujuan hidup kita. Proses itu berlangsung pelan, diam-diam, dan terus menjerumuskan kita, tanpa kita sadari.
Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, kita terus bekerja siang dan malam demi mengejar status sosial dan tren kehidupan. Lalu membuat kita lupa untuk belajar memahami bahwa semua yang kita kejar itu akan kita tinggalkan juga. Uang yang disimpan, tabungan, atau kekayaan lainnya malah akan menjadi beban saat kita tidak memanfaatkannya dalam kebaikan. Padahal semua yang kita banggakan hari ini, hanya bersifat fisik, mudah hilang dan tidak abadi.
Semua karunia yang kita dapatkan bukan jaminan bahwa hidup masih lama. Keberlimpahan harta yang kita miliki tanpa kita sadari akan kita tinggal pergi. Saat ini kita masih sehat - hidup mapan - dan masa depan berkecukupan - sehingga tidak pernah terpikir besok akan mati. Padahal, tidak ada yang bisa menjamin bahwa besok kita masih hidup. Karena kematian tidak pernah peduli apakah kita kaya atau miskin, sehat atau sekarat. Ia datang tiba-tiba dan tidak ada yang dapat memajukan, memundurkan, atau menghentikan.
Berapa banyak orang yang masih sehat, populer, bahkan kaya raya dan berkuasa, namun tak berdaya saat bertemu ajal. Ada yang saat malam hari masih tertawa, namun paginya telah tiada. Tubuh mereka sudah terbujur kaku, karena maut telah datang bertamu. Ada yang kemarin masih sehat bugar, namun hari ini dikabarkan telah meninggal. Sadarkah kita, bahwa ajal telah sangat dekat? Mengertikah kita, bahwa besok akan menjadi hari terakhir kita di dunia?

Prinsip Hidup Mereka Yang Bahagia
Orang-orang besar sangat menyadari bahwa kehidupan ini serius. Hidup memiliki batas waktu. Karenanya, mereka tidak terbiasa menunda-nunda segala sesuatu dalam hidupnya. Saat yang tepat untuk berbuat adalah hari ini, tidak menunda sampai besok atau nanti.
Jarum jam terus berputar, dan hari terus berganti. Kemarin sudah kita lewati. Dan besok adalah hari yang belum pasti. Maka hari ini; saat sekarang; adalah saat untuk kita melakukan sesuatu yang benar dan berharga. Tidak menunggu besok, minggu depan, atau suatu hari nanti yang masih belum jelas, dan tidak ada jaminan kita masih bernapas.
Kadang, bahkan bisa juga sering, jam-jam hidup kita terbuang tanpa terasa. Menit demi menitnya hilang tanpa ada sesuatu yang produktif. Dan akhirnya kita terlambat menyadari, bahwa waktu yang amat berharga ini terbuang tanpa banyak memanfaatkan peluang.
Kesadaran yang tinggi untuk selalu mensyukuri waktu, adalah dengan berupaya mengisinya dengan kemuliaan tindakan. Semangat berbagi dan memberi inspirasi. Dengan harapan agar masa depan penuh keindahan dan kenikmatan.
Mereka yang selalu sadar dan terbangun kembali dari tidur, meyakini bahwa setiap hari baru adalah anugerah yang baru. Lalu menjadikan setiap detiknya sebagai peluang baru untuk melakukan sesuatu yang terbaik sehingga waktu yang ada tidak hilang percuma.
Sesungguhnya, setiap detik yang berjalan tak pernah mampu untuk kembali ke detik sebelumnya. Jadi, tidak ada alasan untuk menunda-nunda kebaikan. Agar kelak kita tidak termasuk orang-orang yang gagal dan menyesal.

Karya dan Nama Baik
Apa cerita tentang dirimu yang akan dikisahkan oleh orang-orang sesudahmu? Tentu saja tidak ada diantara kita yang ingin dikenang sebagai orang jahat. Lalu, apa yang mesti kita lakukan agar kisah hidup kita selalu dikenang sebagai orang baik?
Kita, adalah satu-satunya jenis makhluk paling sempurna diantara makhluk lainnya. Walaupun kia tidak memiliki sayap untuk terbang, namun kita bisa terbang lebih tinggi daripada burung. Walaupun kita tidak memiliki insank untuk berenang, namun kita bisa berenang lebih dalam daripada ikan. Karena kita diberikan akal, yang lain tidak.
Masalahnya, tidak setiap kita memiliki kesadaran dan pengendalian diri yang baik, hingga kehilangan akal, lalu terjerumus dalam kehinaan. Kemudian sulit bangkit, akhirnya terbiasa dalam keburukan dan mati binasa saat belum sempat bertaubat.
Segala bentuk nasehat, sudah tidak lagi mendapat tempat. Tanpa terasa, diri kita semakin jauh dan semakin sesat. Kemewahan, kemegahan, dan keindahan dunia telah membuat kita lupa beramal untuk kebahagiaan akhirat. Karena bisa jadi kita telah kehilangan akal sehat dan hati telah tertutup oleh maksiat.
Penyesalan demi penyesalan akan kita alami, sesaat setelah napas kita berhenti berhembus. Lalu muncul keinginan agar dihidupkan kembali untuk mengabdi. Padahal selama hidup, sudah banyak kesempatan dan peringatan. Namun hanya dianggap sebagai ocehan murahan tak berkesan.
Tidak ada manusia yang lebih dicintai Ilahi, selain mereka yang benar-benar ingin kembali saat napas masih menyatu dalam diri. Air mata yang jatuh adalah air mata penyesalan, sungguh-sungguh menyesal karena telah lupa diri dan hilang akal.
Setelah itu, bangkit dan berdiri dengan semangat mengabdi dan memantaskan diri. Memahami bahwa hidup harus meninggalkan nama baik dan karya nyata. Sebuah karya yang sungguh-sungguh dihasilkan sebagai bentuk cinta bagi generasi penerus cita-cita.
Kesadaran akan hakikat hidup membuat diri kita lebih bermakna, lebih mulia, dan lebih arif. Hidup mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan mawas diri. Agar saat kita menutup hari di bumi, nama kita tetap hidup dan selalu dikenang dengan penuh keindahan.      

Belajar Dari Mereka Yang Sudah Mati
Belajar dari kisah orang lain tentang bagaimana mereka mengisi kehidupan akan membuat kita lebih bijak dan lebih siap menyambut kematian. Mereka telah lebih dulu menjalani hari demi hari, waktu demi waktu, serta tindakan dan gerak hidup. Diantara mereka ada yang mewariskan kebaikan ada pula yang mewariskan keburukan.
Mereka yang mewariskan kebaikan terus dikenang bersama kebaikannya. kebaikan telah menjadi sifat dan karakter mereka selama hidup. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan persiapan. Kemudian akhir kehidupan mereka adalah kebahagiaan dan kemuliaan.
Sebaliknya, mereka yang mewariskan keburukan juga terus dikenang bersama keburukannya. Selama hidup, mereka berbuat sesuka hati tanpa batas. Kesombongan, keangkuhan, dan kegilaan mencintai dunia telah menutup kesadaran mereka. Akhirnya berita kematian mereka sangat tragis dan mengerikan. Hina di dunia dan sengsara di akhirat.

Agenda Hidup
Mereka yang kehabisan bekal dan keletihan karena tertipu dengan kehidupan dunia, lalu putus asa dan tidak semangat menyambut akhirat, biasanya tidak memiliki agenda hidup yang jelas. Waktu luang dan kesehatan fisiknya terkikis habis oleh aktivitas-aktivitas yang tidak berdampak besar untuk kebaikan dan kebahagiaan masa depannya.
Dirinya terlihat sibuk, namun sibuk yang sia-sia. Jam demi jamnya dihabiskan hanya untuk menikmati hiburan penuh maksiat. Kesehariannya dipenuhi angan-angan kosong tanpa aksi nyata. Kesibukannya hanya untuk menumpuk kekayaan, berlomba-lomba dan bersenang-senang dengan kesenangan dunia.
Agar tidak terus tertipu dengan kemegahan dunia, maka sebaiknya kita memiliki agenda hidup yang ketat. Sehingga tidak ada celah untuk berbuat maksiat. Agenda kegiatan yang berorientasi pada keselamatan dan kebahagiaan akhirat. Dengan menetapkan skala prioritas, lalu cermat memilih mana aktivitas-aktivitas yang berdampak besar bagi kemuliaan agama serta manfaat yang tinggi bagi sesama.

Kiat Bahagia Untuk Hidup Dan Mati
Tidak disiplin dalam menjalankan agenda hidup akan menjadikan kita semakin jauh dari harapan untuk hidup bahagia dan mati bahagia. Kebahagiaan hidup di dunia bisa didapatkan dengan prestasi ilmu, dan kebahagiaan hidup di akhirat bisa diraih dengan prestasi ibadah.
Dengan keilmuan yang mumpuni, atau menjadi spesialis di suatu bidang tertentu, seseorang dapat memperoleh kemudahan dalam hidup di dunia. Dan hal itu bisa menjadikan dirinya masuk dalam kategori orang sukses.
Namun, kebahagiaan di akhirat hanya bisa diraih dengan prestasi amal atau ibadah selama hidup di dunia. Ilmu yang tinggi, tapi tidak menjadikan kita pribadi terpuji, malah semakin jauh dari ilahi, maka ilmu kita tidak mampu menyelamatkan kita di akhirat nanti.

Kumpulan Doa
Doa Untuk Diri
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 23).
Doa Untuk Pasangan
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan:74)
Doa Untuk Anak
Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Al Imran: 38).
Doa Untuk Orang Tua
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh: 28).
Doa Untuk Kaum Muslimin
Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami ” (QS. Al Hasyr : 10)
Doa Untuk Kebahagian Dunia dan Akhirat
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah: 201)

Penutup
Entah besok, entah lusa, entah kapan, kita tidak pernah tahu kapan kematian akan datang. Dia datang tanpa memberi kabar. Dia tidak memilih usia, kedudukan, atau berlimpah harta. Dan dia tidak melihat apakah masih muda atau sudah tua, anak kecil atau orang dewasa, orang sakit atau yang sehat. Kapanpun dan dimanapun dia akan menemui kita.
Maka, tindakan yang cerdas untuk menyambut kematian adalah menyiapkan diri dengan bekal amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Di antara persiapannya adalah:
  1. Bertaubat
  2.  Menjaga iman
  3. Menjaga lisan
  4. Menjaga silaturrahim
  5. Memberi manfaat kepada sesama
Semoga kita istiqomah hingga hembusan napas paling akhir, Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...