Rabu, 16 Agustus 2023

Hibban Jatuh


HARI Minggu yang cerah itu, sinar matahari menerangi taman dengan indahnya. Anak kami yang ceria, Hibban, berusia 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD, sedang bermain sepeda dengan gembira. Setelah satu minggu penuh belajar di sekolah, akhirnya tiba saatnya untuk bersenang-senang.

Takdir berkata lain pada hari itu, 13 Agustus 2023. Saat Hibban sedang menikmati sensasi angin yang menyapu wajahnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dia sedang turun dari jalan tajam yang curam, stang sepedanya tiba-tiba goyah, membuat keseimbangan sepedanya terganggu. Dalam sekejap, Hibban jatuh dan tubuhnya bersentuhan dengan tanah.

Rasa sakit langsung menusuk. Kakinya tergores dan tangannya terluka. Raut wajahnya mencerminkan rasa takut dan kejutan. Mamah yang melihat kejadian itu dengan cepat berlari mendekati Hibban. Dengan penuh kekhawatiran, mamah merawat luka-lukanya. Hibban mencoba menahan tangis, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuat air matanya tak terbendung.

Beberapa hari berlalu, Hibban harus istirahat dari sekolah. Kecelakaan itu meninggalkan bekas luka pada janggutnya dan luka-luka di tangan serta kakinya. Kini, sepedanya tergeletak sendiri di sudut garasi. Hibban merasa sedih, karena sepeda adalah teman setianya dalam menjelajahi dunia.

Namun, dalam keadaan sulit seperti ini, Hibban menunjukkan ketangguhannya. Ia tidak membiarkan luka-lukanya menghalangi semangatnya. Ia membaca buku, menonton film, dan melukis di waktu luangnya. Mamah dan abi selalu ada di sisinya, memberikan dukungan dan kasih sayang.

Hari-hari berlalu, luka-luka Hibban semakin membaik. Dia belajar dari kesalahannya dan berjanji untuk lebih berhati-hati saat naik sepeda di masa depan. Ketika tiba waktunya kembali ke sekolah, Hibban merasa sedikit gugup. Namun, teman-temannya menyambutnya dengan senyuman hangat dan cerita-cerita seru selama dia absen.

Kejadian itu mengajarkan kepada Hibban tentang arti keteguhan dan semangat mengatasi tantangan. Meskipun jatuh dalam perjalanannya, ia mampu bangkit kembali dengan lebih kuat. Dan sepedanya yang sempat terlupakan di sudut garasi, kini kembali menjadi sahabat setianya.

Dalam perjalanan hidupnya, Hibban menyadari bahwa kejadian buruk bisa berubah menjadi pelajaran berharga. Ia menuliskan dalam buku harian kecilnya, "Ketika jatuh, aku belajar bagaimana caranya bangkit lagi, seperti sepedaku yang selalu berdiri meski pernah terjatuh."

Semoga luka-luka Hibban semakin cepat sembuh dan dia dapat kembali mengejar petualangan dengan sepedanya yang tak pernah lelah menemani langkahnya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...