Jumat, 06 Oktober 2023

Kenangan di Rumah Nenek Rogayah


Sejak kecil, rumah nenek adalah tempat tinggalku. Sehari-hari, nenekku menjual beragam makanan lezat seperti lontong isi kentang, buras plus oseng kelapa, singkong goreng, pisang goreng, tahu isi, dan lain sebagainya. Sebelum fajar menyingsing, kayu bakar sudah menyala di dapur nenek untuk memasak aneka kue tersebut. Setelah shubuh, beberapa ibu-ibu datang untuk mengambil kue-kue tersebut guna dijual keliling kampung.

Rumah nenek terletak dekat dengan masjid. Pada pagi hari Jumat, nenek sibuk membersihkan, menyapu, dan menggelar karpet sebagai persiapan bagi para bapak-bapak yang akan melaksanakan shalat Jumat. Di depan rumah nenek, terdapat pasar tumpah yang dikenal sebagai pasar Ciplak. Banyak pedagang yang menjual berbagai perabot rumah tangga, sayuran, buah-buahan, baju, dan sebagainya. Hobinya nenek adalah berbelanja piring dan gelas.

Setelah pulang ngaji, aku sering jajan martabak di pasar ini. Harganya waktu itu masih sangat terjangkau, martabak seharga 100 rupiah, dan bakso seharga 300 rupiah, walaupun itu sudah termasuk kelas bakso mewah. Nenek juga menjadi guru ngaji. Setelah maghrib, saya dan teman-teman ngaji di rumah nenek. Di malam Jumat, kami membaca surat Yasin, Al-Mulk, dan Al-Waqiah. Setelah ngaji, nenek selalu menyediakan bubur kacang ijo untuk kami nikmati.

Pada tahun 1995, nenek meninggal. Aku menyaksikan bagaimana nenek menghadapi sakaratul maut dengan tenang. Meskipun tubuhnya lemah, lisannya masih mampu mengucapkan kalimat tauhid. Kini, nenek tidak ada lagi, namun kenangannya tetap hidup. Beliau telah banyak berjasa dalam hidupku.

Oh iya, namanya adalah Hj. Rogayah binti H. Mughni. Marilah kita bacakan doa untuk beliau, semoga amal baiknya menjadi penerang dalam kuburnya, dan beliau dimasukkan dalam barisan orang-orang yang diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.

Jumat, 29 September 2023

Haji Edo

Haji Edo duduk di beranda rumahnya yang sederhana, melihat langit senja yang memerah. Sudah bertahun-tahun lamanya perjuangan hidupnya, berawal dari pilihan sulit di masa remaja. Ayahnya menawarkan dua pilihan, sekolah di pesantren dengan menjual dua ekor sapi, atau sekolah umum. Haji Edo memilih sekolah umum dan memutuskan merawat sapi-sapi itu dengan penuh ketekunan.

Dari dua ekor sapi itu, ternyata ketekunan Haji Edo membawa hasil gemilang. Sapi-sapi itu berkembang menjadi 60 ekor, menjadi kebanggaan keluarganya. Tidak hanya itu, setiap hari Haji Edo berkeliling dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya, menawarkan susu murni. Meski banyak yang menolak, ada juga yang menjadi pelanggan setia. Sukses bisnis susu murni pun membawa kehidupan mereka naik turun.

Namun, takdir berkata lain. Di tahun 2020, pandemi Covid-19 datang dan merenggut kesejahteraan keluarga Haji Edo. Bisnis susu sapi merosot, harga pakan sapi melambung, dan biaya operasional terus merangkak naik. Pukulan berat datang ketika Haji Edo terkena penyakit stroke, membuatnya tak lagi mampu mengurus sapi-sapinya. Akhirnya, semua sapi dijual.

Tidak hanya itu, ujian terberat menyapa keluarga ini. Hasan, anak sulung yang penuh potensi, jatuh sakit parah dan meninggalkan keluarganya dalam kesedihan. Hasan yang harus dirawat inap karena sakit lambung, membuat keluarga menghadapi kenyataan yang berat. Haji Edo, walaupun dalam keadaan lemah, terus menguatkan hatinya dan keluarganya.

Tahun 2023 tiba, Hasan meninggalkan dunia ini. Satu istri dan dua anak ditinggalkan, meninggalkan Haji Edo dengan tanggung jawab yang semakin berat. Anak pertama baru duduk di kelas satu SMA, sedangkan anak kedua masih duduk di kelas tiga SD.

Haji Edo tetap tegar dan yakin bahwa ujian demi ujian adalah cara Allah SWT meninggikan derajat manusia. Dalam kesedihan dan kesulitan, keluarga ini tetap bersatu dan membangun kekuatan dari dalam. Kebersamaan dan keyakinan pada takdir-Nya membuat mereka terus berjalan, menghadapi setiap ujian dengan hati yang tegar dan penuh harap. Sebab, setiap cobaan membawa hikmah yang tak terduga, dan kehidupan terus mengajarkan arti keikhlasan dan keberanian.

Rabu, 20 September 2023

Yusuf dan Zia: Puluhan Tahun Cinta dan Iman

Pada bulan Januari 2004, di sebuah restoran di Jakarta Selatan, dua jiwa yang akhirnya akan bersatu pertama kali bertemu. Mereka adalah Yusuf dan Zia, yang dipertemukan oleh seorang teman bernama Kang Asep. Saat pertemuan pertama itu, tidak ada yang tahu bahwa ini akan menjadi awal dari sebuah perjalanan cinta yang penuh inspirasi.

Mereka berdua mulai bertukar cerita, berbagi impian, dan menemukan banyak kesamaan dalam pandangan hidup mereka. Tidak butuh waktu lama bagi cinta mereka untuk tumbuh. Pada bulan Februari 2004, Yusuf memberanikan diri untuk melamar Zia, dan dengan senyuman bahagia, Zia menerima lamaran itu.

Pernikahan mereka di Masjid Al Istiqomah, Tegal Parang, Jakarta Selatan, pada tanggal 9 Mei 2004, adalah awal dari petualangan yang indah. Mereka berdua memiliki impian besar: untuk membangun keluarga yang penuh dengan cinta dan iman.

Setahun setelah pernikahan mereka, pada tanggal 24 Mei 2005, Allah memberkahi mereka dengan kehadiran anak pertama, Khairul Mufid. Kelahiran anak pertama ini mengisi rumah mereka dengan tawa dan cinta yang melimpah. Anak kedua, Chairina Taqiyyah, lahir pada tanggal 6 Februari 2008, diikuti oleh Khairul Anam pada tanggal 11 Desember 2011, dan Khairul Hibban pada tanggal 29 Januari 2015. Keluarga mereka semakin lengkap dengan setiap kelahiran anak.

Namun, perjuangan mereka belum selesai. Yusuf dan Zia memiliki impian besar untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai para penghafal Quran. Mereka berdua tekun dalam mendidik anak-anak mereka tentang agama dan bahasa Al-Quran. Zia, yang lulus dengan gelar S1 dalam psikologi, fokus mengajar tahsin Quran kepada anak-anak mereka, sementara Yusuf, yang bekerja di industri penerbitan buku, memberikan dukungan penuh dalam memfasilitasi proses belajar mengajar ini.

Mereka berdua tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi mereka selalu saling mendukung dan menginspirasi satu sama lain. Dengan iman yang kuat dan tekad yang bulat, mereka berharap Allah akan memudahkan jalan mereka.

Pada tanggal 25 April 2023, keluarga mereka semakin lengkap dengan kelahiran anak kelima mereka, Chairina Zidna Ilma. Keluarga yang penuh dengan cinta, ketabahan, dan tekad ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitar mereka.

Sekarang, setelah 20 tahun pernikahan yang penuh berkah, Yusuf dan Zia masih memiliki impian besar untuk keluarga mereka dan generasi mendatang. Semoga Allah senantiasa memberkahi perjalanan cinta dan iman mereka, dan semoga mereka terus menjadi inspirasi bagi banyak orang yang melihat kesatuan, kebahagiaan, dan ketabahan mereka. Aamiin.


Senin, 21 Agustus 2023

Minum Teh Pakai Gelas Gede di Masjid Nurul Iman


Hari Sabtu yang cerah, tiba-tiba terdengar suara ponselku berdering. Saat kutatap layar, ternyata panggilan dari Pak Kyai Abdurrahman. Tak sabar kutapaki tombol hijau untuk menjawabnya.

"Pak Kyai, ada yang bisa saya bantu?" sapaku dengan sopan.

"Ust Yusuf, insya Allah saya butuhkan tolongmu. Saya punya agenda mendadak di luar kota, jadi saya butuhmu menggantikanku mengisi taklim di Masjid Nurul Iman. Malam Ahad setelah maghrib ya," jelas Pak Kyai.

Dalam hati, aku agak gugup. Tapi kupastikan diriku untuk menjawab, "Tentu, Pak Kyai. Saya akan berusaha hadir dan memberikan yang terbaik."

"Baiklah, jazakallahu khairan. Semoga lancar semuanya," ucap Pak Kyai sebelum mengakhiri panggilan.

Saat Sabtu menjelang senja, aku sudah siap menghadapi taklim di Masjid Nurul Iman. Baju koko putih yang sudah disiapkan istri kukenakan, dan kurasakan diriku seperti 'ustadz' sungguhan. Pukul 17:45, aku meluncur menuju masjid yang terletak di Jalan Gunung Tj. Barat, Jakarta Selatan.

Ketika aku sampai di masjid, ternyata shalat maghrib sudah dimulai. Tanpa pikir panjang, aku segera parkir motor dan masuk ke barisan shalat. Setelah shalat selesai, taklim dimulai. Aku memberikan materi tafsir Al-Quran dari surat Al-Mukminun ayat 15-16.

"Ya jamaah yang budiman, mari kita bersiap-siap menghadapi dua hal yang pasti akan kita alami: kematian dan hari kiamat. Sebagai bekal, mari kita belajar dari ayat-ayat ini," kataku sambil menjelaskan dengan semangat di depan whiteboard.

Alhamdulillah, jamaah merespons positif. Ada kaum bapak, kaum ibu, bahkan anak-anak remaja yang hadir. Sesuai kesepakatan, setelah kajian selesai, kami melaksanakan shalat isya berjamaah.

Shalat isya dipimpin oleh Ustaz Marhasan. Usai shalat, tak disangka, kami disajikan dengan makanan kue-kue lezat dan teh manis hangat. Aku kaget ketika melihat ukuran gelas teh yang besar sekali, hampir seperti ember kecil!

Suasana begitu akrab. Kami semua duduk bersama menikmati hidangan itu. Rasanya seperti keluarga besar yang berkumpul.

Pukul 20:30, aku merasa sudah waktunya untuk pulang. Aku berpamitan pada Pak Ustaz Marhasan dan juga jamaah masjid.

"Terima kasih, Pak Ustaz, atas kesempatan ini. Dan terima kasih juga kepada jamaah Masjid Nurul Iman. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ucapku sambil memberikan salam.

Dalam perjalanan pulang, aku tak bisa menahan senyum. Siapa sangka, di balik agenda taklim tadi, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang bekal menuju hari kiamat, dan juga tentang seberapa besar ukuran gelas teh manis bisa menjadi penyatuan dalam kebersamaan.

Rabu, 16 Agustus 2023

Hibban Jatuh


HARI Minggu yang cerah itu, sinar matahari menerangi taman dengan indahnya. Anak kami yang ceria, Hibban, berusia 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD, sedang bermain sepeda dengan gembira. Setelah satu minggu penuh belajar di sekolah, akhirnya tiba saatnya untuk bersenang-senang.

Takdir berkata lain pada hari itu, 13 Agustus 2023. Saat Hibban sedang menikmati sensasi angin yang menyapu wajahnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dia sedang turun dari jalan tajam yang curam, stang sepedanya tiba-tiba goyah, membuat keseimbangan sepedanya terganggu. Dalam sekejap, Hibban jatuh dan tubuhnya bersentuhan dengan tanah.

Rasa sakit langsung menusuk. Kakinya tergores dan tangannya terluka. Raut wajahnya mencerminkan rasa takut dan kejutan. Mamah yang melihat kejadian itu dengan cepat berlari mendekati Hibban. Dengan penuh kekhawatiran, mamah merawat luka-lukanya. Hibban mencoba menahan tangis, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuat air matanya tak terbendung.

Beberapa hari berlalu, Hibban harus istirahat dari sekolah. Kecelakaan itu meninggalkan bekas luka pada janggutnya dan luka-luka di tangan serta kakinya. Kini, sepedanya tergeletak sendiri di sudut garasi. Hibban merasa sedih, karena sepeda adalah teman setianya dalam menjelajahi dunia.

Namun, dalam keadaan sulit seperti ini, Hibban menunjukkan ketangguhannya. Ia tidak membiarkan luka-lukanya menghalangi semangatnya. Ia membaca buku, menonton film, dan melukis di waktu luangnya. Mamah dan abi selalu ada di sisinya, memberikan dukungan dan kasih sayang.

Hari-hari berlalu, luka-luka Hibban semakin membaik. Dia belajar dari kesalahannya dan berjanji untuk lebih berhati-hati saat naik sepeda di masa depan. Ketika tiba waktunya kembali ke sekolah, Hibban merasa sedikit gugup. Namun, teman-temannya menyambutnya dengan senyuman hangat dan cerita-cerita seru selama dia absen.

Kejadian itu mengajarkan kepada Hibban tentang arti keteguhan dan semangat mengatasi tantangan. Meskipun jatuh dalam perjalanannya, ia mampu bangkit kembali dengan lebih kuat. Dan sepedanya yang sempat terlupakan di sudut garasi, kini kembali menjadi sahabat setianya.

Dalam perjalanan hidupnya, Hibban menyadari bahwa kejadian buruk bisa berubah menjadi pelajaran berharga. Ia menuliskan dalam buku harian kecilnya, "Ketika jatuh, aku belajar bagaimana caranya bangkit lagi, seperti sepedaku yang selalu berdiri meski pernah terjatuh."

Semoga luka-luka Hibban semakin cepat sembuh dan dia dapat kembali mengejar petualangan dengan sepedanya yang tak pernah lelah menemani langkahnya. Amin.

Jumat, 14 Juli 2023

Surat An Naas

Halo, teman-teman! Kali ini kita akan membahas Surat An-Naas, surat ke-114 dalam Al-Qur'an yang juga dikenal dengan beberapa nama, seperti "Surat Perlindungan" dan "Surat Pemberian Perlindungan". Surat ini bukan hanya penting bagi generasi kita, tetapi juga berlaku untuk semua generasi.

Jadi, apa yang dikatakan oleh Surat An-Naas? Surat ini membahas tentang perlindungan yang diberikan oleh Allah dari segala bentuk kejahatan dan godaan syaitan. Ia mengingatkan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari godaan dan pengaruh buruk yang bisa merusak hati dan pikiran kita.

Nah, apa pelajaran penting yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari dari Surat An-Naas ini? Pelajaran utamanya adalah kita harus mengandalkan Allah dan meminta perlindungan-Nya dalam menghadapi godaan dan gangguan syaitan. Kita harus menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk melindungi kita dari berbagai bahaya yang mengintai.

Oh ya, ternyata Surat An-Naas ini memiliki beberapa keutamaan juga, lho! Salah satunya adalah memberikan perlindungan dan keamanan kepada orang yang membacanya dengan tulus dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaca dan mengamalkan Surat An-Naas, kita akan merasa lebih kuat dalam iman kita dan dapat menghalau segala gangguan dan godaan syaitan.

Bagaimana dengan waktu membaca Surat An-Naas? Ternyata, kita bisa membacanya kapan saja, dalam situasi apapun. Namun, ada beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan membaca surat ini sebelum tidur, terutama saat kita akan beristirahat. Hal ini dilakukan agar kita dapat terlindung dari gangguan dan godaan syaitan saat kita sedang lemah atau tidak berdaya.

Jadi, itulah penjelasan singkat mengenai Surat An-Naas. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat darinya dan senantiasa memohon perlindungan Allah dari segala bentuk kejahatan. Jangan lupa untuk membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang lain juga, ya!


Referensi:

Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Juz 30. Darul Haq, 2002.

Jalalain. Tafsir Jalalain. Darul Ihya al-Turath al-'Arabi, 2010.

Kamis, 13 Juli 2023

Surat Al Fatihah

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


Al-Fatihah: Artinya "Pembukaan", karena surat ini merupakan pembukaan Al-Qur'an.

Ummul Qur'an: Artinya "Ibu (Asal) Al-Qur'an", karena surat ini dianggap sebagai inti dari seluruh Al-Qur'an.


Tafsir ringkas dari beberapa kitab tafsir terpercaya:

  • Tafsir Ibnu Katsir: Surat Al-Fatihah adalah permulaan Al-Qur'an dan berisi pengakuan terhadap keesaan Allah, pujian kepada-Nya, serta permohonan petunjuk dan hidayah-Nya.
  • Tafsir Jalalain: Surat Al-Fatihah mengandung keutamaan-keutamaan yang besar dan mengajarkan tentang pengagungan kepada Allah, doa untuk petunjuk, serta peringatan terhadap kesesatan dan kemurkaan-Nya.
  • Tafsir Al-Qurtubi: Surat Al-Fatihah adalah inti dari Al-Qur'an dan memuat pujian kepada Allah serta permohonan petunjuk dari-Nya. Ia juga mengandung penjelasan tentang keesaan Allah dan keadilan-Nya dalam menghukum atau memberikan karunia.


Pelajaran penting untuk praktek dalam kehidupan:

  • Mengakui keesaan Allah: Surat Al-Fatihah mengajarkan kita untuk mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan menghargai-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang mempunyai kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.
  • Memohon petunjuk dan hidayah: Surat Al-Fatihah mengajarkan kita untuk selalu memohon petunjuk dan hidayah Allah dalam menjalani kehidupan, sehingga kita dapat berjalan di jalan yang lurus dan mendapatkan kesuksesan sejati.
  • Menghindari kesesatan dan kemurkaan Allah: Surat Al-Fatihah mengingatkan kita tentang bahaya kesesatan dan murka Allah. Oleh karena itu, kita perlu berupaya menjauhkan diri dari perbuatan yang salah dan mencari petunjuk-Nya agar terhindar dari kehancuran.


Keutamaan-keutamaan Surat Al-Fatihah:

  • Pembukaan Al-Qur'an: Surat Al-Fatihah dianggap sebagai pembukaan Al-Qur'an, sehingga membawa keistimewaan dan keutamaan sebagai surat yang paling penting.
  • Doa yang Dikabulkan: Surat Al-Fatihah mengandung doa untuk petunjuk dan hidayah Allah. Doa yang diajarkan dalam surat ini dianggap sebagai doa yang pasti dikabulkan oleh Allah jika dimohonkan dengan tulus dan ikhlas.
  • Pembebas dari Api Neraka: Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang membaca Surat Al-Fatihah dengan iman dan pengharapan kepada Allah, dia akan menjadi pembebas dari api neraka.
  • Kesempurnaan dalam Shalat: Surat Al-Fatihah merupakan bagian wajib dalam setiap rakaat shalat. Dengan membacanya secara khusyuk dan memahami maknanya, shalat kita akan menjadi lebih sempurna dan diterima oleh Allah.


صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...