DULU, saat usiaku masih 8 tahun, aku mulai belajar mengaji Al-Quran. Setiap pagi, ayahku dengan sabar mengantarkanku naik sepeda ontel ke tempat pengajian. Mulai dari mengeja huruf hijaiyah hingga akhirnya aku mampu membaca Al-Quran dengan lancar. Itu adalah perjalanan indah yang penuh kesabaran.
Suatu hari, di saat hari besar Islam, aku memutuskan untuk mengikuti lomba di sebuah masjid dekat rumah. Saat pengumuman lomba, hatiku berdegup kencang saat namaku disebut sebagai juara kedua. Ternyata, tanpa memberiku tahu sebelumnya, ayah dan ibuku sudah menunggu di luar masjid dengan senyuman bahagia di wajah mereka. Mereka bangga padaku.
Pada hari ulang tahunku yang berikutnya, ayah memberikan sebuah hadiah istimewa bagiku. Sepeda baru yang begitu cemerlang berdiri di depan mataku. Ayah berkata bahwa sepeda itu adalah hadiah untukku. Aku merasa takjub dan sangat bahagia. Sepeda itu menjadi sahabat setia dalam perjalanan ke sekolah, tempat mengaji, dan juga tempat bermain.
Beberapa tahun kemudian, setelah berhasil lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, aku mendapat pekerjaan di sebuah industri penerbitan buku. Aku bersyukur atas karir yang baik ini. Aku tahu, semua itu tak lepas dari restu dan doa ayah dan ibuku. Mereka selalu menjadi sumber inspirasi dan dukungan terbesarku.
Namun, pada tahun 2015, ibuku meninggalkan dunia ini. Kehilangan itu terasa begitu dalam. Aku mengucapkan selamat jalan untuk ibuku yang tercinta, semoga Allah SWT menempatkannya di surga-Nya yang penuh kebahagiaan. Aamiin.
Sepeda ontel yang pernah mengantarkanku dalam perjalanan belajar mengaji dan mencapai mimpi-mimpiku. Itu adalah simbol dari perjuangan dan kasih sayang ayah dan ibuku. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah lelah mendukungku dan mewujudkan impian-impianku. Aku berjanji untuk selalu menjaga dan menghormati warisan mereka, serta melanjutkan perjalanan hidup dengan penuh semangat dan pengabdian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar