Rabu, 05 Juli 2023

Pelajaran Sepekan di Sekolah

Saat senin tiba, sebelum memulai belajar, kami selalu melaksanakan upacara bendera. Devi Lestari, teman kami, menjadi pemandu paduan suara (dirigen) dalam upacara tersebut, sementara Edi Armansyah bertugas membacakan doa. Rudi Jamal menjadi pemimpin upacara. Namun, karena berdiri terlalu lama, beberapa teman kami pingsan, di antaranya Chaerani, Indah, dan Helmi.

Kegiatan di hari selasa kami diisi dengan pelajaran olahraga yang dilaksanakan di gedung olahraga remaja yang berada di samping sekolah. Pak Yunus, guru olahraga kami, selalu memulai dengan pemanasan, yaitu berlari mengitari area gedung sebanyak 20 putaran. Setelah itu, para siswa laki-laki melanjutkan dengan bermain bulu tangkis, sementara siswa perempuan memilih untuk bermain lompat tali, senam, atau sekadar ngobrol santai.

Hari rabu menjadi hari favorit kami karena ada pelajaran PPKN, yang ternyata lebih sulit daripada rumus matematika. Tak ada satu pun siswa yang berani menjawab ketika Pak Marhasan mengajukan pertanyaan tentang esensi dari setiap materi yang diajarkan. Karena itulah, kami memberi julukan "bapak esensi" padanya.

Ketika hari kamis tiba, kami memiliki pelajaran akuntansi. Pelajaran ini membutuhkan buku besar, penggaris, dan kalkulator agar laporan perubahan modal, neraca kas, dan rugi laba yang kami susun tidak memiliki selisih. Jika terdapat selisih hanya satu rupiah, kepala kami akan pusing tujuh keliling, dan akhirnya kami harus memulai dari awal lagi dengan memeriksa setiap pencatatan transaksi.

Hari jumat adalah hari di mana kami berlatih mengetik menggunakan mesin tik. Bu Mamay akan marah jika kami mengetik dengan hanya menggunakan dua jari, menurutnya cara yang benar adalah menggunakan sebelas jari: asdfghjkl.

Sementara itu, di hari sabtu sebelum kebijakan sekolah memberikan libur, kami masih harus masuk sekolah. Pada hari ini, kami memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti paskibra, PMR, dan taekwondo. Dari sebelas siswa laki-laki di kelas kami, hanya Edi Armansyah yang tidak aktif di ekstrakurikuler karena lebih memilih mengaji di musholla.

Itulah kegiatan rutin selama satu minggu selama tiga tahun kami bersekolah di SMK N 25 Jakarta. Hari ini, setelah 24 tahun kami lulus, kenangan-kennangan itu masih terpatri dalam memori kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bu Diana yang telah mengajarkan kami akuntansi, Pak Marhasan yang sabar menunggu kami mencari esensi, dan Bu Mamay atas ilmu mengetik dengan sebelas jari. Terima kasih juga untuk semua guru dan teman-teman kami. Semoga kalian semua sehat dan bahagia selalu bersama keluarga, aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...