Selasa, 28 Mei 2024

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami


Sebuah Kisah dari Perspektif Anak

Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan cinta dan nilai-nilai agama yang kuat, semua berkat kedua orang tua kami, terutama ayah kami, Muhamad Yusuf.

Ayah lahir di Jakarta pada 21 Januari 1981. Sejak kecil, ayah adalah sosok yang rajin dan penuh semangat. Beliau adalah anak pertama dari empat bersaudara dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat menjunjung tinggi pendidikan agama. Ayah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di madrasah, dan kemudian melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Hikmah Jakarta, jurusan komunikasi dakwah.

Pada bulan Mei 2004, ayah menikahi mama, wanita yang kemudian menjadi pendamping hidupnya dan mama dari kami semua. Pernikahan mereka adalah awal dari sebuah perjalanan penuh berkah dan kebahagiaan. Dari pernikahan itu, Allah SWT menganugerahkan kami lima orang anak: dua putri dan tiga putra. Kehidupan kami penuh dengan cinta dan kebahagiaan, didasarkan pada pondasi agama yang kuat dan saling pengertian.

Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya di penerbitan Al-Quran dan buku-buku Islam. Meski begitu, beliau tidak pernah mengabaikan kami. Ayah adalah seorang yang luar biasa dalam membagi waktu. Di satu sisi, beliau bekerja keras di penerbitan, berdakwah melalui buku-buku yang diterbitkannya, menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru negeri. Di sisi lain, ayah selalu hadir untuk kami, mendidik kami dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

Setiap malam, ayah sering mengajak kami berkumpul, membaca Al-Quran bersama, dan berbagi cerita tentang kisah-kisah nabi dan para sahabat. Dari ayah, kami belajar tentang pentingnya ilmu dan nilai-nilai kebaikan. Ayah selalu menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan bahwa dengan ilmu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Selain menjadi seorang dai dan pendidik, ayah juga mendirikan Rumah Qur'an bersama ibu. Tempat ini adalah pusat pembelajaran Al-Quran yang bertujuan untuk memberantas buta huruf Al-Quran di Indonesia. Kami sering ikut serta dalam kegiatan di Rumah Qur'an, membantu ayah dan ibu dalam mengelola tempat ini. Ayah selalu berkata bahwa ini adalah kontribusi kecil kami untuk masyarakat, tetapi dengan harapan bisa memberikan dampak besar bagi umat Islam di Indonesia.

Ayah adalah sosok yang pantang menyerah dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap langkah hidupnya. Meski banyak tantangan dan kesulitan, ayah tidak pernah berhenti berjuang. Beliau selalu mengajarkan kami untuk berusaha dengan niat ikhlas dan doa yang tulus. "Allah tidak pernah tidur, Dia selalu melihat usaha dan doa kita," begitu kata ayah.

Bagi kami, ayah adalah inspirasi sejati. Beliau menunjukkan bahwa dengan ketekunan, keikhlasan, dan doa, setiap mimpi dan harapan bisa menjadi kenyataan. Ayah mengajarkan kami untuk tidak pernah takut bermimpi besar dan selalu berusaha mewujudkannya dengan kerja keras dan doa.

Kini, kami bertekad untuk melanjutkan perjuangan ayah. Kami ingin menjadi generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam iman dan akhlak. Ayah telah memberikan kami contoh yang luar biasa tentang bagaimana menjalani hidup dengan penuh dedikasi dan cinta kepada Allah SWT.

Kisah ayah adalah kisah tentang perjuangan, cinta, dan ketekunan. Melalui dakwah dan pendidikan, ayah berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan religius. Di tengah segala kesibukan dan tantangan hidup, ayah terus melangkah dengan penuh optimisme dan keyakinan, bahwa cahaya Islam akan terus bersinar terang di setiap sudut kehidupan. 

Semoga kisah ayah kami dapat menginspirasi banyak orang untuk terus berusaha dan berdoa, menjalani hidup dengan penuh dedikasi dan cinta kepada Allah SWT. Kami bangga menjadi anak-anak dari seorang Muhamad Yusuf, seorang ayah, dai, dan pendidik yang luar biasa.

Jumat, 02 Februari 2024

Kisah Khutbah dan Buah Favorit




Depok, Jumat, 11:11 WIB

Langit Depok memancarkan sinar mentari pagi yang hangat, menyapa hari Jumat penuh berkah. Saya, dengan semangat khusyuk, meluncur di atas motor menuju Masjid At Taubah, Gardenia Residence, untuk menjalankan tugas sebagai khatib. Tak disangka, petualangan inspiratif menanti di sepanjang jalan, mengantarkan saya pada renungan mendalam tentang kehidupan.

Persimpangan Jalan dan Dilema Pilihan

Di persimpangan Jl Tole Iskandar, keraguan melanda. Belok kiri atau kanan? Dua pilihan terbentang di depan mata, bagaikan dua jalan kehidupan yang menanti untuk dilalui. Dalam hitungan detik, saya memutuskan untuk belok kanan, mengikuti intuisi yang menuntun langkah kaki.

Namun, setelah 300 meter melaju, keraguan kembali menggerogoti. Sesuatu terasa janggal. Ketidakpastian menyelimuti hati. Sejenak, saya berhenti dan merenungkan kembali pilihan saya. Benarkah ini jalan menuju masjid?

Putar Balik dan Menemukan Jalan yang Benar

Dengan penuh kesadaran, saya putar balik arah. Keteguhan hati mengantarkan saya kembali ke persimpangan tadi, siap untuk memilih jalan yang benar. Kali ini, dengan keyakinan yang lebih kuat, saya belok kiri.

Keajaiban di Masjid dan Berkah yang Tak Terduga

Tepat pukul 11:43, saya tiba di Masjid At Taubah. Disambut hangat oleh seorang tamir masjid muda, saya menunaikan shalat sunnah dua rakaat, memanjatkan doa memohon kelancaran dalam menyampaikan khutbah.

Suasana masjid semakin hidup menjelang shalat Jumat. Jemaah berbondong-bondong datang, memenuhi ruangan dengan aura kesyukuran dan kekhusyukan. Tepat pukul 12:09, saya berdiri di mimbar, menyampaikan khutbah tentang Isra Miraj, perjalanan Nabi Muhammad SAW yang penuh keajaiban.

Seusai shalat Jumat, saya berpamitan dengan para jemaah, bersiap untuk kembali ke rumah. Namun, sebuah kejutan tak terduga menanti. Tamir masjid memberikan saya sebuah bungkusan plastik berisi nasi, lauk, kerupuk, dan empat buah kecapi.

Renungan Sepanjang Jalan Pulang

Empat buah kecapi, favorit saya sejak kecil, kini tergeletak di pangkuan saya. Buah manis nan sederhana ini, bagaikan simbol keajaiban hidup. Terkadang, seperti perjalanan keliling pertigaan tadi, kita bisa tersesat, terjebak dalam pilihan yang salah. Namun, dengan kesadaran dan keteguhan hati, kita selalu memiliki kesempatan untuk putar balik, menemukan jalan yang benar, dan meraih kebahagiaan.

Filosofi Kecapi dan Kehidupan

Setiap alunan kecapi, bagaikan melodi kehidupan yang penuh liku. Ada nada tinggi, ada nada rendah. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Namun, di balik setiap nada, selalu terselip pesan dan hikmah.

Salah jalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, di balik kesalahan, terdapat kesempatan untuk belajar dan berkembang. Keberanian untuk putar balik dan kembali ke jalan yang benar, itulah kunci untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan.

Empat buah kecapi, bukan hanya camilan lezat, tetapi juga pengingat bahwa dalam setiap perjalanan hidup, selalu ada keajaiban dan berkah yang menanti. Kita hanya perlu membuka hati dan terus melangkah maju dengan penuh keyakinan.

Epilog

Petualangan kecil di persimpangan Jl Tole Iskandar menjadi pengingat berharga bagi saya. Bahwa dalam hidup, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan. Terkadang, kita bisa salah jalan. Namun, dengan kesadaran dan keteguhan hati, kita selalu memiliki kesempatan untuk putar balik dan menemukan jalan yang benar.

Empat buah kecapi, simbol sederhana yang sarat makna. Buah manis yang mengingatkan saya bahwa di balik setiap kesalahan, selalu ada kesempatan untuk belajar dan menemukan kebahagiaan.

Selasa, 16 Januari 2024

Rumah Tua di Depan Rumah Misbah


Pada setiap tanggal 15, kami, anggota paguyuban pedagang tahu dan tempe, berkumpul untuk acara arisan. Paguyuban ini telah berdiri kokoh selama 10 tahun terakhir, dengan jumlah anggota yang kini mencapai 35 orang.

Tepat pada tanggal 15 Januari kali ini, kami berkumpul di rumah Pak Misbah Munir yang beralamat di Jl. H. Amin No.90, RT.4/RW.2, Lenteng Agung. Perjalanan kami menuju lokasi dilakukan dengan konvoi naik motor. Setibanya di rumah Pak Misbah, kami disambut hangat olehnya.

Ternyata, awal masuk gerbang kami dibuat kaget, di bagian belakang rumahnya ada 30 ekor sapi, dan susu dari sapi-sapi tersebut dikirimkan ke koperasi. Selain itu, Pak Misbah juga membuka majlis taklim untuk ibu-ibu setiap hari Ahad sore. Tak hanya itu, kegiatan seni baca Al-Quran juga diadakan untuk anak-anak setiap Kamis sore. Pengajar taklim untuk ibu-ibu adalah istri dari Habib Ali Tebet, sementara seni tilawah Quran diasuh oleh kakaknya, yang juga merupakan juara dalam berbagai lomba seni tilawah Quran tingkat nasional.

Kami semua terkagum-kagum melihat ruangan tempat kami berkumpul. Dipenuhi dengan berbagai tropi piala yang tersebar di satu lemari. Misbah menceritakan bahwa semua piala tersebut adalah hasil dari berbagai lomba yang dimenangkan oleh kakak-kakaknya dalam seni tilawah Quran tingkat nasional. Tidak hanya piala, tapi kakaknya juga menerima hadiah umroh dan haji.

Acara arisan kami dimulai pukul 21:15 dan berakhir pada pukul 22:15. Acara diawali dengan tahlil yang dipimpin oleh Bapak Syamsuri, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Paguyuban, Bapak Supardi. Setelah itu, kami menikmati obrolan santai sambil menikmati kue dan teh manis.

Sebelum kami pamit, kami merasa senang bisa berkunjung ke rumah Pak Misbah. Rumahnya nyaman, dan keunikan lainnya adalah adanya sungai Ciliwung di sebelah kanan rumahnya sekitar 30 meter. Di depan rumah Misbah, terdapat sebuah rumah tua dan kosong. Saya penasaran dan bertanya, "Rumah itu milik siapa?" Misbah menjawab, "Itu rumah kosong sudah lama, merupakan warisan keluarga. Namun, setiap ahli waris tidak bisa sepakat apakah rumah tersebut akan dijual atau disewakan." Owalah...

Jumat, 29 Desember 2023

Jejak Kacamata di Mimbar

Hari Jumat itu, suasana di Masjid Baitul Iman, perumahan Maharaja Sawangan Depok, begitu khusyuk. Khutbah Jumat hari itu diisi olehku, menggantikan Ustad Abi Iwan yang berhalangan karena tugas di Indramayu. Tema khutbah kali ini adalah "Refleksi Akhir Tahun." Jamaah tampak antusias, wajah-wajah penuh semangat menyimak kata-kata yang disampaikan.

Khutbah berjalan lancar, doa-doa pun mengalir tulus dari hati yang merindukan keberkahan di akhir tahun. Setelah shalat selesai, aku lantas pamit pulang, berharap khutbah ini dapat memberikan inspirasi dan ketenangan bagi jamaah.

Namun, takdir berkata lain. Baru saja sampai di gerbang masuk perumahan, sekitar 50 meter dari masjid, aku merasa ada yang kurang. Matapun seketika membulat ketika aku menyadari bahwa handphone dan kacamataku tertinggal di dalam masjid. Tanpa pikir panjang, aku langsung putar arah menuju masjid.

Langkahku terasa berat, seiring rasa khawatir yang memenuhi hati. Berbagai pikiran negatif muncul, mempertanyakan apakah masih ada orang di dalam masjid, atau apakah barang-barangku sudah diambil orang. Dengan hati yang berdebar, aku melangkah masuk ke masjid.

Saat masuk, sejuknya ruangan masjid tak lagi menyentuh hatiku. Aku menuju mimbar dengan langkah hati-hati. Alhamdulillah, di atas mimbar itu, tergeletak dengan rapi handphone dan kacamataku. Sebuah rasa syukur dan lega menyelimuti diriku.

Di sudut masjid yang sunyi itu, aku merenung. Bagaimana nikmatnya kejernihan hati yang tak tergantikan oleh kekhawatiran dunia. Rasa syukurku seolah bertambah ketika aku menyadari bahwa di tempat yang sepi sekalipun, kebaikan masih menyelimuti hati orang-orang yang beriman.

Langkahku meninggalkan masjid kali ini lebih ringan. Aku berjalan kembali ke gerbang dengan senyuman di bibir. Momen itu mengajarkan padaku bahwa terkadang, di tengah kesibukan dan kegembiraan, kita perlu melambat dan merenung, merasakan ketenangan, dan bersyukur atas nikmat kecil yang seringkali terlewatkan.

Dari perjalanan pulang itu, aku membawa lebih dari sekadar handphone dan kacamata. Aku membawa kisah tentang kebaikan, kejujuran, dan keberkahan di masjid Baitul Iman, sebuah cerita singkat yang menjadi pengingat betapa indahnya hidup ketika kita merenung dan bersyukur.

Jumat, 08 Desember 2023

Kisah Jumat yang Menginspirasi di Medialand Tower

Hari Kamis pagi, pukul 5, telepon dari Ustadz Abi Iwan. "Bang, bisa gantikan khutbah Jumat di Medialand Tower besok?" ujar Ustadz Abi Iwan.

"Siap, Ustadz. Saya akan hadir," jawab saya sembari mencatat alamat dan detailnya.

Sore harinya, istri saya, dengan senyum ramah, menyodorkan beberapa baju dan kain. "Ini, pilih yang cocok buat khutbah besok ya, Bi."

Hari Jumat, jam 10:10, saya meluncur dari Depok dengan motor. Sampai di Medialand Tower jam 11:05, satpam ramah menyambut dan menunjukkan tempat parkir serta pintu masuk masjid di lantai 6.

Rama, pengurus masjid yang hangat, menemani saya. "Selamat datang, Ustadz. Saya Rama, dari Pasar Baru."

Jamaah satu per satu datang, mayoritas karyawan ekspedisi Si Cepat, penyewa gedung. Jam 12:00, saya naik mimbar dengan tema "Refleksi Diri Akhir Tahun 2023." "Waktu adalah pedang. Jika kau tidak pandai memainkannya, maka ia akan memotongmu," pesan saya.

Setelah shalat, saya berbincang dengan Pak Syafii, takmir masjid yang ceria. "Sulit, Ustadz, tapi tak terlalu sulit. Baru setahun jadi takmir, banyak suka duka," ucapnya.

"Saya yakin, Pak. Jika kita menolong agama Allah, Allah pasti menolong kita," titip saya pesan pada Pak Syafii.

Pak Syafii, yang tinggal dekat Ancol, berkeluarga dengan dua anak yang sudah SMP, menceritakan perjalanannya sebagai takmir masjid.

Jam 12:40, saya pamit keluar gedung. Tertahan di portal parkir karena harus pakai e-money.

Pulang lewat Kuningan, belok kiri ke arah Pancoran, langit tiba-tiba gelap. Dari Volvo ke PS Minggu, hujan deras mengguyur. Namun, dari Lenteng Agung hingga Depok, cuaca tetap cerah.

Sampai di Depok pukul 13:40, saya tersenyum. Sebuah hari yang sederhana, tapi penuh inspirasi dan kehangatan di Masjid Medialand Tower.

Jumat, 06 Oktober 2023

Kenangan di Rumah Nenek Rogayah


Sejak kecil, rumah nenek adalah tempat tinggalku. Sehari-hari, nenekku menjual beragam makanan lezat seperti lontong isi kentang, buras plus oseng kelapa, singkong goreng, pisang goreng, tahu isi, dan lain sebagainya. Sebelum fajar menyingsing, kayu bakar sudah menyala di dapur nenek untuk memasak aneka kue tersebut. Setelah shubuh, beberapa ibu-ibu datang untuk mengambil kue-kue tersebut guna dijual keliling kampung.

Rumah nenek terletak dekat dengan masjid. Pada pagi hari Jumat, nenek sibuk membersihkan, menyapu, dan menggelar karpet sebagai persiapan bagi para bapak-bapak yang akan melaksanakan shalat Jumat. Di depan rumah nenek, terdapat pasar tumpah yang dikenal sebagai pasar Ciplak. Banyak pedagang yang menjual berbagai perabot rumah tangga, sayuran, buah-buahan, baju, dan sebagainya. Hobinya nenek adalah berbelanja piring dan gelas.

Setelah pulang ngaji, aku sering jajan martabak di pasar ini. Harganya waktu itu masih sangat terjangkau, martabak seharga 100 rupiah, dan bakso seharga 300 rupiah, walaupun itu sudah termasuk kelas bakso mewah. Nenek juga menjadi guru ngaji. Setelah maghrib, saya dan teman-teman ngaji di rumah nenek. Di malam Jumat, kami membaca surat Yasin, Al-Mulk, dan Al-Waqiah. Setelah ngaji, nenek selalu menyediakan bubur kacang ijo untuk kami nikmati.

Pada tahun 1995, nenek meninggal. Aku menyaksikan bagaimana nenek menghadapi sakaratul maut dengan tenang. Meskipun tubuhnya lemah, lisannya masih mampu mengucapkan kalimat tauhid. Kini, nenek tidak ada lagi, namun kenangannya tetap hidup. Beliau telah banyak berjasa dalam hidupku.

Oh iya, namanya adalah Hj. Rogayah binti H. Mughni. Marilah kita bacakan doa untuk beliau, semoga amal baiknya menjadi penerang dalam kuburnya, dan beliau dimasukkan dalam barisan orang-orang yang diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.

Jumat, 29 September 2023

Haji Edo

Haji Edo duduk di beranda rumahnya yang sederhana, melihat langit senja yang memerah. Sudah bertahun-tahun lamanya perjuangan hidupnya, berawal dari pilihan sulit di masa remaja. Ayahnya menawarkan dua pilihan, sekolah di pesantren dengan menjual dua ekor sapi, atau sekolah umum. Haji Edo memilih sekolah umum dan memutuskan merawat sapi-sapi itu dengan penuh ketekunan.

Dari dua ekor sapi itu, ternyata ketekunan Haji Edo membawa hasil gemilang. Sapi-sapi itu berkembang menjadi 60 ekor, menjadi kebanggaan keluarganya. Tidak hanya itu, setiap hari Haji Edo berkeliling dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya, menawarkan susu murni. Meski banyak yang menolak, ada juga yang menjadi pelanggan setia. Sukses bisnis susu murni pun membawa kehidupan mereka naik turun.

Namun, takdir berkata lain. Di tahun 2020, pandemi Covid-19 datang dan merenggut kesejahteraan keluarga Haji Edo. Bisnis susu sapi merosot, harga pakan sapi melambung, dan biaya operasional terus merangkak naik. Pukulan berat datang ketika Haji Edo terkena penyakit stroke, membuatnya tak lagi mampu mengurus sapi-sapinya. Akhirnya, semua sapi dijual.

Tidak hanya itu, ujian terberat menyapa keluarga ini. Hasan, anak sulung yang penuh potensi, jatuh sakit parah dan meninggalkan keluarganya dalam kesedihan. Hasan yang harus dirawat inap karena sakit lambung, membuat keluarga menghadapi kenyataan yang berat. Haji Edo, walaupun dalam keadaan lemah, terus menguatkan hatinya dan keluarganya.

Tahun 2023 tiba, Hasan meninggalkan dunia ini. Satu istri dan dua anak ditinggalkan, meninggalkan Haji Edo dengan tanggung jawab yang semakin berat. Anak pertama baru duduk di kelas satu SMA, sedangkan anak kedua masih duduk di kelas tiga SD.

Haji Edo tetap tegar dan yakin bahwa ujian demi ujian adalah cara Allah SWT meninggikan derajat manusia. Dalam kesedihan dan kesulitan, keluarga ini tetap bersatu dan membangun kekuatan dari dalam. Kebersamaan dan keyakinan pada takdir-Nya membuat mereka terus berjalan, menghadapi setiap ujian dengan hati yang tegar dan penuh harap. Sebab, setiap cobaan membawa hikmah yang tak terduga, dan kehidupan terus mengajarkan arti keikhlasan dan keberanian.

Rabu, 20 September 2023

Yusuf dan Zia: Puluhan Tahun Cinta dan Iman

Pada bulan Januari 2004, di sebuah restoran di Jakarta Selatan, dua jiwa yang akhirnya akan bersatu pertama kali bertemu. Mereka adalah Yusuf dan Zia, yang dipertemukan oleh seorang teman bernama Kang Asep. Saat pertemuan pertama itu, tidak ada yang tahu bahwa ini akan menjadi awal dari sebuah perjalanan cinta yang penuh inspirasi.

Mereka berdua mulai bertukar cerita, berbagi impian, dan menemukan banyak kesamaan dalam pandangan hidup mereka. Tidak butuh waktu lama bagi cinta mereka untuk tumbuh. Pada bulan Februari 2004, Yusuf memberanikan diri untuk melamar Zia, dan dengan senyuman bahagia, Zia menerima lamaran itu.

Pernikahan mereka di Masjid Al Istiqomah, Tegal Parang, Jakarta Selatan, pada tanggal 9 Mei 2004, adalah awal dari petualangan yang indah. Mereka berdua memiliki impian besar: untuk membangun keluarga yang penuh dengan cinta dan iman.

Setahun setelah pernikahan mereka, pada tanggal 24 Mei 2005, Allah memberkahi mereka dengan kehadiran anak pertama, Khairul Mufid. Kelahiran anak pertama ini mengisi rumah mereka dengan tawa dan cinta yang melimpah. Anak kedua, Chairina Taqiyyah, lahir pada tanggal 6 Februari 2008, diikuti oleh Khairul Anam pada tanggal 11 Desember 2011, dan Khairul Hibban pada tanggal 29 Januari 2015. Keluarga mereka semakin lengkap dengan setiap kelahiran anak.

Namun, perjuangan mereka belum selesai. Yusuf dan Zia memiliki impian besar untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai para penghafal Quran. Mereka berdua tekun dalam mendidik anak-anak mereka tentang agama dan bahasa Al-Quran. Zia, yang lulus dengan gelar S1 dalam psikologi, fokus mengajar tahsin Quran kepada anak-anak mereka, sementara Yusuf, yang bekerja di industri penerbitan buku, memberikan dukungan penuh dalam memfasilitasi proses belajar mengajar ini.

Mereka berdua tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi mereka selalu saling mendukung dan menginspirasi satu sama lain. Dengan iman yang kuat dan tekad yang bulat, mereka berharap Allah akan memudahkan jalan mereka.

Pada tanggal 25 April 2023, keluarga mereka semakin lengkap dengan kelahiran anak kelima mereka, Chairina Zidna Ilma. Keluarga yang penuh dengan cinta, ketabahan, dan tekad ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitar mereka.

Sekarang, setelah 20 tahun pernikahan yang penuh berkah, Yusuf dan Zia masih memiliki impian besar untuk keluarga mereka dan generasi mendatang. Semoga Allah senantiasa memberkahi perjalanan cinta dan iman mereka, dan semoga mereka terus menjadi inspirasi bagi banyak orang yang melihat kesatuan, kebahagiaan, dan ketabahan mereka. Aamiin.


Senin, 21 Agustus 2023

Minum Teh Pakai Gelas Gede di Masjid Nurul Iman


Hari Sabtu yang cerah, tiba-tiba terdengar suara ponselku berdering. Saat kutatap layar, ternyata panggilan dari Pak Kyai Abdurrahman. Tak sabar kutapaki tombol hijau untuk menjawabnya.

"Pak Kyai, ada yang bisa saya bantu?" sapaku dengan sopan.

"Ust Yusuf, insya Allah saya butuhkan tolongmu. Saya punya agenda mendadak di luar kota, jadi saya butuhmu menggantikanku mengisi taklim di Masjid Nurul Iman. Malam Ahad setelah maghrib ya," jelas Pak Kyai.

Dalam hati, aku agak gugup. Tapi kupastikan diriku untuk menjawab, "Tentu, Pak Kyai. Saya akan berusaha hadir dan memberikan yang terbaik."

"Baiklah, jazakallahu khairan. Semoga lancar semuanya," ucap Pak Kyai sebelum mengakhiri panggilan.

Saat Sabtu menjelang senja, aku sudah siap menghadapi taklim di Masjid Nurul Iman. Baju koko putih yang sudah disiapkan istri kukenakan, dan kurasakan diriku seperti 'ustadz' sungguhan. Pukul 17:45, aku meluncur menuju masjid yang terletak di Jalan Gunung Tj. Barat, Jakarta Selatan.

Ketika aku sampai di masjid, ternyata shalat maghrib sudah dimulai. Tanpa pikir panjang, aku segera parkir motor dan masuk ke barisan shalat. Setelah shalat selesai, taklim dimulai. Aku memberikan materi tafsir Al-Quran dari surat Al-Mukminun ayat 15-16.

"Ya jamaah yang budiman, mari kita bersiap-siap menghadapi dua hal yang pasti akan kita alami: kematian dan hari kiamat. Sebagai bekal, mari kita belajar dari ayat-ayat ini," kataku sambil menjelaskan dengan semangat di depan whiteboard.

Alhamdulillah, jamaah merespons positif. Ada kaum bapak, kaum ibu, bahkan anak-anak remaja yang hadir. Sesuai kesepakatan, setelah kajian selesai, kami melaksanakan shalat isya berjamaah.

Shalat isya dipimpin oleh Ustaz Marhasan. Usai shalat, tak disangka, kami disajikan dengan makanan kue-kue lezat dan teh manis hangat. Aku kaget ketika melihat ukuran gelas teh yang besar sekali, hampir seperti ember kecil!

Suasana begitu akrab. Kami semua duduk bersama menikmati hidangan itu. Rasanya seperti keluarga besar yang berkumpul.

Pukul 20:30, aku merasa sudah waktunya untuk pulang. Aku berpamitan pada Pak Ustaz Marhasan dan juga jamaah masjid.

"Terima kasih, Pak Ustaz, atas kesempatan ini. Dan terima kasih juga kepada jamaah Masjid Nurul Iman. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ucapku sambil memberikan salam.

Dalam perjalanan pulang, aku tak bisa menahan senyum. Siapa sangka, di balik agenda taklim tadi, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang bekal menuju hari kiamat, dan juga tentang seberapa besar ukuran gelas teh manis bisa menjadi penyatuan dalam kebersamaan.

Rabu, 16 Agustus 2023

Hibban Jatuh


HARI Minggu yang cerah itu, sinar matahari menerangi taman dengan indahnya. Anak kami yang ceria, Hibban, berusia 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD, sedang bermain sepeda dengan gembira. Setelah satu minggu penuh belajar di sekolah, akhirnya tiba saatnya untuk bersenang-senang.

Takdir berkata lain pada hari itu, 13 Agustus 2023. Saat Hibban sedang menikmati sensasi angin yang menyapu wajahnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dia sedang turun dari jalan tajam yang curam, stang sepedanya tiba-tiba goyah, membuat keseimbangan sepedanya terganggu. Dalam sekejap, Hibban jatuh dan tubuhnya bersentuhan dengan tanah.

Rasa sakit langsung menusuk. Kakinya tergores dan tangannya terluka. Raut wajahnya mencerminkan rasa takut dan kejutan. Mamah yang melihat kejadian itu dengan cepat berlari mendekati Hibban. Dengan penuh kekhawatiran, mamah merawat luka-lukanya. Hibban mencoba menahan tangis, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuat air matanya tak terbendung.

Beberapa hari berlalu, Hibban harus istirahat dari sekolah. Kecelakaan itu meninggalkan bekas luka pada janggutnya dan luka-luka di tangan serta kakinya. Kini, sepedanya tergeletak sendiri di sudut garasi. Hibban merasa sedih, karena sepeda adalah teman setianya dalam menjelajahi dunia.

Namun, dalam keadaan sulit seperti ini, Hibban menunjukkan ketangguhannya. Ia tidak membiarkan luka-lukanya menghalangi semangatnya. Ia membaca buku, menonton film, dan melukis di waktu luangnya. Mamah dan abi selalu ada di sisinya, memberikan dukungan dan kasih sayang.

Hari-hari berlalu, luka-luka Hibban semakin membaik. Dia belajar dari kesalahannya dan berjanji untuk lebih berhati-hati saat naik sepeda di masa depan. Ketika tiba waktunya kembali ke sekolah, Hibban merasa sedikit gugup. Namun, teman-temannya menyambutnya dengan senyuman hangat dan cerita-cerita seru selama dia absen.

Kejadian itu mengajarkan kepada Hibban tentang arti keteguhan dan semangat mengatasi tantangan. Meskipun jatuh dalam perjalanannya, ia mampu bangkit kembali dengan lebih kuat. Dan sepedanya yang sempat terlupakan di sudut garasi, kini kembali menjadi sahabat setianya.

Dalam perjalanan hidupnya, Hibban menyadari bahwa kejadian buruk bisa berubah menjadi pelajaran berharga. Ia menuliskan dalam buku harian kecilnya, "Ketika jatuh, aku belajar bagaimana caranya bangkit lagi, seperti sepedaku yang selalu berdiri meski pernah terjatuh."

Semoga luka-luka Hibban semakin cepat sembuh dan dia dapat kembali mengejar petualangan dengan sepedanya yang tak pernah lelah menemani langkahnya. Amin.

Jumat, 14 Juli 2023

Surat An Naas

Halo, teman-teman! Kali ini kita akan membahas Surat An-Naas, surat ke-114 dalam Al-Qur'an yang juga dikenal dengan beberapa nama, seperti "Surat Perlindungan" dan "Surat Pemberian Perlindungan". Surat ini bukan hanya penting bagi generasi kita, tetapi juga berlaku untuk semua generasi.

Jadi, apa yang dikatakan oleh Surat An-Naas? Surat ini membahas tentang perlindungan yang diberikan oleh Allah dari segala bentuk kejahatan dan godaan syaitan. Ia mengingatkan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari godaan dan pengaruh buruk yang bisa merusak hati dan pikiran kita.

Nah, apa pelajaran penting yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari dari Surat An-Naas ini? Pelajaran utamanya adalah kita harus mengandalkan Allah dan meminta perlindungan-Nya dalam menghadapi godaan dan gangguan syaitan. Kita harus menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk melindungi kita dari berbagai bahaya yang mengintai.

Oh ya, ternyata Surat An-Naas ini memiliki beberapa keutamaan juga, lho! Salah satunya adalah memberikan perlindungan dan keamanan kepada orang yang membacanya dengan tulus dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaca dan mengamalkan Surat An-Naas, kita akan merasa lebih kuat dalam iman kita dan dapat menghalau segala gangguan dan godaan syaitan.

Bagaimana dengan waktu membaca Surat An-Naas? Ternyata, kita bisa membacanya kapan saja, dalam situasi apapun. Namun, ada beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan membaca surat ini sebelum tidur, terutama saat kita akan beristirahat. Hal ini dilakukan agar kita dapat terlindung dari gangguan dan godaan syaitan saat kita sedang lemah atau tidak berdaya.

Jadi, itulah penjelasan singkat mengenai Surat An-Naas. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat darinya dan senantiasa memohon perlindungan Allah dari segala bentuk kejahatan. Jangan lupa untuk membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang lain juga, ya!


Referensi:

Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Juz 30. Darul Haq, 2002.

Jalalain. Tafsir Jalalain. Darul Ihya al-Turath al-'Arabi, 2010.

Kamis, 13 Juli 2023

Surat Al Fatihah

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


Al-Fatihah: Artinya "Pembukaan", karena surat ini merupakan pembukaan Al-Qur'an.

Ummul Qur'an: Artinya "Ibu (Asal) Al-Qur'an", karena surat ini dianggap sebagai inti dari seluruh Al-Qur'an.


Tafsir ringkas dari beberapa kitab tafsir terpercaya:

  • Tafsir Ibnu Katsir: Surat Al-Fatihah adalah permulaan Al-Qur'an dan berisi pengakuan terhadap keesaan Allah, pujian kepada-Nya, serta permohonan petunjuk dan hidayah-Nya.
  • Tafsir Jalalain: Surat Al-Fatihah mengandung keutamaan-keutamaan yang besar dan mengajarkan tentang pengagungan kepada Allah, doa untuk petunjuk, serta peringatan terhadap kesesatan dan kemurkaan-Nya.
  • Tafsir Al-Qurtubi: Surat Al-Fatihah adalah inti dari Al-Qur'an dan memuat pujian kepada Allah serta permohonan petunjuk dari-Nya. Ia juga mengandung penjelasan tentang keesaan Allah dan keadilan-Nya dalam menghukum atau memberikan karunia.


Pelajaran penting untuk praktek dalam kehidupan:

  • Mengakui keesaan Allah: Surat Al-Fatihah mengajarkan kita untuk mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan menghargai-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang mempunyai kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.
  • Memohon petunjuk dan hidayah: Surat Al-Fatihah mengajarkan kita untuk selalu memohon petunjuk dan hidayah Allah dalam menjalani kehidupan, sehingga kita dapat berjalan di jalan yang lurus dan mendapatkan kesuksesan sejati.
  • Menghindari kesesatan dan kemurkaan Allah: Surat Al-Fatihah mengingatkan kita tentang bahaya kesesatan dan murka Allah. Oleh karena itu, kita perlu berupaya menjauhkan diri dari perbuatan yang salah dan mencari petunjuk-Nya agar terhindar dari kehancuran.


Keutamaan-keutamaan Surat Al-Fatihah:

  • Pembukaan Al-Qur'an: Surat Al-Fatihah dianggap sebagai pembukaan Al-Qur'an, sehingga membawa keistimewaan dan keutamaan sebagai surat yang paling penting.
  • Doa yang Dikabulkan: Surat Al-Fatihah mengandung doa untuk petunjuk dan hidayah Allah. Doa yang diajarkan dalam surat ini dianggap sebagai doa yang pasti dikabulkan oleh Allah jika dimohonkan dengan tulus dan ikhlas.
  • Pembebas dari Api Neraka: Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang membaca Surat Al-Fatihah dengan iman dan pengharapan kepada Allah, dia akan menjadi pembebas dari api neraka.
  • Kesempurnaan dalam Shalat: Surat Al-Fatihah merupakan bagian wajib dalam setiap rakaat shalat. Dengan membacanya secara khusyuk dan memahami maknanya, shalat kita akan menjadi lebih sempurna dan diterima oleh Allah.


صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

Rabu, 12 Juli 2023

Back to School


Hari Sabtu yang cerah itu, saya memutuskan untuk menemani anak-anakku membeli perlengkapan sekolah. Mereka akan segera kembali ke sekolah setelah menikmati liburan kenaikan kelas. Kami berangkat ke toko dengan semangat tinggi, berharap menemukan semua yang mereka butuhkan.

Kami memasuki toko perlengkapan sekolah, dan anak-anak dengan gembira memilih buku tulis, sampul, tempat pensil, dan sepatu baru. Saya membawa uang tunai sebesar 500 ribu rupiah, berpikir itu akan cukup untuk semua belanjaan mereka. Ternyata, ketika kami menghitung total belanja, jumlahnya mencapai 639 ribu rupiah. Uang saya kurang, dan saya terpaksa harus membayar sisanya dengan kartu debit.

Meskipun sedikit kecewa karena tidak dapat membayar semuanya dengan uang tunai, raut wajah ceria anak-anak membuat hati saya berbunga. Hibban, yang naik ke kelas 3 SD, sangat senang dengan sepatu barunya. Ia mencoba sepatu itu berkali-kali di sekitar rumah, dan saya turut bersyukur melihat kegembiraan di wajahnya.

Anam, yang naik ke kelas 6 SD, akan menghadapi jadwal belajar yang lebih padat dan fokus karena ujian kelulusan semakin dekat. Saya berharap Anam mampu melewati proses ini dengan baik dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Taqiyyah, yang naik ke kelas 10 (1 Aliyah), telah melewati proses seleksi yang panjang dan akhirnya diterima di MAN 13 Jakarta. Selain menjalani proses belajar di sekolah, pada Sabtu dan Ahad, Taqiyyah juga mengikuti halaqah Al-Quran. Ia berusaha menjaga hafalannya atas 30 juz agar tetap terjaga dengan baik.

Mufid, yang akan memulai kuliah tahun ini, telah memilih jurusan Tafsir Al-Quran. Saya berharap dengan pilihannya yang bijaksana, ilmunya akan bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

"Demi ilmu, teruslah semangat, anak-anakku," kataku sambil tersenyum. "Dengan ilmu, Insya Allah, dunia dan akhirat akan selamat."

Mereka semua melihatku dengan penuh semangat dan rasa optimis di wajah mereka. Mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk masa depan yang cerah. Kami berjalan pulang dengan hati penuh harapan, semangat, dan keyakinan bahwa anak-anakku akan meraih kesuksesan melalui ilmu yang mereka dapatkan.

Semoga perjalanan belajar anak-anakku penuh dengan keberhasilan, kegembiraan, dan prestasi yang membanggakan. Saya dan istri akan selalu menjadi pendukung setia bagi mereka, mendorong mereka untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberikan yang terbaik dalam segala hal.

Rabu, 05 Juli 2023

Pelajaran Sepekan di Sekolah

Saat senin tiba, sebelum memulai belajar, kami selalu melaksanakan upacara bendera. Devi Lestari, teman kami, menjadi pemandu paduan suara (dirigen) dalam upacara tersebut, sementara Edi Armansyah bertugas membacakan doa. Rudi Jamal menjadi pemimpin upacara. Namun, karena berdiri terlalu lama, beberapa teman kami pingsan, di antaranya Chaerani, Indah, dan Helmi.

Kegiatan di hari selasa kami diisi dengan pelajaran olahraga yang dilaksanakan di gedung olahraga remaja yang berada di samping sekolah. Pak Yunus, guru olahraga kami, selalu memulai dengan pemanasan, yaitu berlari mengitari area gedung sebanyak 20 putaran. Setelah itu, para siswa laki-laki melanjutkan dengan bermain bulu tangkis, sementara siswa perempuan memilih untuk bermain lompat tali, senam, atau sekadar ngobrol santai.

Hari rabu menjadi hari favorit kami karena ada pelajaran PPKN, yang ternyata lebih sulit daripada rumus matematika. Tak ada satu pun siswa yang berani menjawab ketika Pak Marhasan mengajukan pertanyaan tentang esensi dari setiap materi yang diajarkan. Karena itulah, kami memberi julukan "bapak esensi" padanya.

Ketika hari kamis tiba, kami memiliki pelajaran akuntansi. Pelajaran ini membutuhkan buku besar, penggaris, dan kalkulator agar laporan perubahan modal, neraca kas, dan rugi laba yang kami susun tidak memiliki selisih. Jika terdapat selisih hanya satu rupiah, kepala kami akan pusing tujuh keliling, dan akhirnya kami harus memulai dari awal lagi dengan memeriksa setiap pencatatan transaksi.

Hari jumat adalah hari di mana kami berlatih mengetik menggunakan mesin tik. Bu Mamay akan marah jika kami mengetik dengan hanya menggunakan dua jari, menurutnya cara yang benar adalah menggunakan sebelas jari: asdfghjkl.

Sementara itu, di hari sabtu sebelum kebijakan sekolah memberikan libur, kami masih harus masuk sekolah. Pada hari ini, kami memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti paskibra, PMR, dan taekwondo. Dari sebelas siswa laki-laki di kelas kami, hanya Edi Armansyah yang tidak aktif di ekstrakurikuler karena lebih memilih mengaji di musholla.

Itulah kegiatan rutin selama satu minggu selama tiga tahun kami bersekolah di SMK N 25 Jakarta. Hari ini, setelah 24 tahun kami lulus, kenangan-kennangan itu masih terpatri dalam memori kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bu Diana yang telah mengajarkan kami akuntansi, Pak Marhasan yang sabar menunggu kami mencari esensi, dan Bu Mamay atas ilmu mengetik dengan sebelas jari. Terima kasih juga untuk semua guru dan teman-teman kami. Semoga kalian semua sehat dan bahagia selalu bersama keluarga, aamiin.

Ayah: Inspirasi Sejati dalam Kehidupan Kami

Sebuah Kisah dari Perspektif Anak Namaku Taqiyyah, anak kedua dari lima bersaudara. Kami lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan c...